Elisitasi Kebutuhan dalam Rekayasa Perangkat Lunak

Sebelum menjelaskan lebih jauh mengenai elisitasi kebutuhan, ada kisah menarik berkaitan dengan mengapa elisitasi dibutuhkan dalam rekayasa kebutuhan perangkat lunak. Baca baik-baik : 
Ilustrasi Pawang Hujan

Suatu pagi bulan Januari di Tengger, di sebuah acara pernikahan, pemilik acara sedang kebingungan karena hujan rintik-rintik mulai turun, sementara acara sebentar lagi dimulai dan undangan belum datang. 

Pemilik Acara : "Mbah, bagaimana ini, hujan sudah mulai turun. Wah, kalau hujan semakin lebat, undangan bisa gak datang. Acara bisa berantakan ini. Bisa malu saya".

Pawang : "Terus, maunya apa, le?"

Pemilik Acara : "Tolong hujannya dihentikan, mbah!".

Pawang : "Iya, (sambil komat kamit membaca mantra)".

Perlahan hujan rintik-rintik mulai berhenti, pemilik acara sumringah kegirangan. Akan tetapi, tak lama kemudian tiba-tiba langit yang tadinya berwarna merah terkena matahari pagi, berubah menjadi redup, kabut menutupi daerah itu sampai semuanya hampir tak terlihat. 

Pemilik Acara : "Lho .. Lho.. Lho.. Mbah, ada apa ini, kok sekarang malah berkabut?"

Pawang : "Ini hujannya sudah dihentikan, karepmu piye sih?"

Pemilik acara terdiam, dengan wajah kusam, dia meninggalkan si pawang. 


Baik, kembali ke materi inti. Elisitasi adalah nama lain dari pengumpulan kebutuhan, yaitu aktivitas awal dalam proses rekayasa kebutuhan. Sebelum kebutuhan dapat dianalisis, dimodelkan, atau ditetapkan, kebutuhan harus dikumpulkan melalui proses elisitasi. Elisitasi kebutuhan adalah sekumpulan aktivitas yang ditujukan untuk menemukan kebutuhan suatu sistem melalui komunikasi dengan pelanggan, pengguna sistem dan pihak lain yang memiliki kepentingan dalam mengembangkan sistem (Sommerville and Sawyer, 1997).

Pada proses elisitasi ini, berbagai kebutuhan dari para pemangku kepentingan dikumpulkan. Seorang pelanggan mempunyai masalah dan ingin dapat ditangani menggunakan solusi berbasis komputer. Maka, tantangan ini dihadapi oleh pihak pengembang. Disinilah komunikasi dimulai, antara pelanggan, pengembang dan calon pengguna dari sistem yang akan dibuat. Namun, istilah elisitasi sesungguhnya amat debatable, ada yang menganalogikan seperti yang dilakukan oleh para arkeolog ketika mengumpulkan reruntuhan-reruntuhan di situs purbakala. Ada yang memberikan istilah Requirement capture karena dilakukan dengan mengumpulkan fakta-fakta, bahkan ada pendapat lebih memilih menyatakan kebutuhan adalah sesuatu yang dibuat dari pada didapatkan (Dorfman and Thaher, 1990).

Menurut Leffingwel (2000), elisitasi kebutuhan bertujuan untuk :
  1. Mengetahui masalah apa saja yang perlu dipecahkan dan mengenali batasan-batasan sistem (system boundaries).
  2. Mengenali siapa saja para pemangku kepentingan.
  3. Mengenali tujuan dari sistem, yaitu sasaran-sasaran yang harus dicapai. 
Proses elisitasi setidaknya harus dilakukan dengan baik untuk mengetahui dengan pasti apa yang diinginkan oleh pelanggan. Elisitasi yang buruk berujung pada kesalahpahaman seperti yang diceritakan diatas. Proses elisitasi yang baik ditentukan oleh teknik elisitasi yang digunakan, masing-masing teknik elisitasi memiliki kekurangan dan kelebihan. Secara garis besar, teknik-teknik elisitasi dapat dibedakan menjadi :

  1. Teknik-Teknik Tradisional
  2. Teknik-Teknik Elisitasi Berkelompok
  3. Prototyping
  4. Teknik-Teknik Model-Driven
  5. Teknik-Teknik Kognitif
  6. Teknik-Teknik Kontekstual

Penjelasan lebih detail mengenai teknik-teknik elisitasi akan dijabarkan dalam postingan lain. Terima kasih.

Referensi 
  • Siahaan, Daniel. 2012. Analisa Kebutuhan dalam Rekayasa Perangkat Lunak. Yogyakarta : Penerbit Andi

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Elisitasi Kebutuhan dalam Rekayasa Perangkat Lunak"

Post a Comment

Terima Kasih Telah Berkunjung, Silakan Berkomentar...
Kritik dan Saran Teman-Teman Sangat Memotivasi Saya (^_^)